Daily Prophet itu—sepertinya semua isinya sama saja. Selaluuu saja membahas masalah yang namanya Kau-Tahu-Siapa—padahal Levina juga belum kenal sama sekali sama si Kau-Tahu-Siapa ini!—yang menyerang sana sini. Hufft—untuk kedua kalinya. Membosankan. Eh, by the way, Lev, sadar tidak sih kalau kau sedang menghalangi jalan orang lain? Ya iyalah, Levina tengah berdiri di daerah yang lowong yang digunakan untuk orang lain lewat dari meja tamu tersebut. Dan—TARAA!—ada orang yang mau lewat disitu juga kan? Dasar Levina, kadang otaknya bisa berpindah tempat. AJAIB—otak manusia kan tetap di kepala, tidak pernah berpindah sampai ke dengkul. "Hah? Maksudmu apa? Kalau mau lewat, silahkan saja sih. Hahaha.." tukasnya sambil tertawa kecil—kalau besar-besar nanti bisa benar dibilang orang gila. Sekali lagi ya aku katakan, Levina itu masiiih normal!
"Belum kok—meskipun tadinya mau aku tempati sih. Wakakakak.." ujarnya mengakui ketika seorang anak berambut pirang—lagi—datang padanya dan menanyakan apakah tempat duduk yang dia tunjuk tadi—aquamarine-nya sedari tadi hanya memperhatikan koran penyihir itu sih—kosong atau tidak? Yah, sebenarnya sih kosong, toh yang ada diatasnya kosong melompong begitu. Hanya ada udara yang kasat mata yang mengisi ruangan ini—kata-kata dari Dimdim lagi itu, ngomong-ngomong. Dasar tukang bajak kata-kata. Teruuuus—ada yang datang lagi. Beruntung sih yang datang kali ini bukan perempuan berambut pirang lagi seperti yang dua tadi. Maklum deh, Levina agak sedikit ilfil sama orang yang rambutnya murni pirang—tidak ada blasterannya seperti coklat atau hitam atau merah atau apalah. Dia menanyakan yang ditemukan Levina itu apa sih? Sampai akhirnya—
—gyaaaaaaaaaaah, Jammie datang lagi. Asiiikkk!
"JAMMIE!" —euforia seperti waktu Levina bertemu dengan kakak pegawai ganteng yang ada di toko tongkat itu muncul lagi kali ini. Wakakakak— "Mrs. Adams kemana? Biasanya kan suka
barengan. Hihihi.." lanjutnya sambil ngikik sendiri. "Oh iya, siapapun kamu namanya aku tidak tahu, ini kalau kata kakakku sih namanya Daily Prophet. Entahlah ada sihir macam apa yang bisa membuat gambarnya bergerak. Sihir kan selalu aneh-aneh. Bleh," ujarnya panjang lebar kepada si anak perempuan yang rambutnya bukan pirang—iya iya, cokelat, seperti rambutnya Levina tuh—yang dikuncir dua—kalau di negara entah mana itu, model rambut seperti itu katanya mirip sama seorang pembantu yang namanya Kokom. Ah Levina tidak tahu deh ya, salahkan penyiar radio kacangan yang suka memberi tahu hal-hal yang sebetulnya tidak penting untuk diberitahukan kepada seluruh warga di tanah Inggris Raya ini.
Entah kenapa ya, Lev, ada yang kurang disiniIYAH! LAKI-LAKI! Masa disini perempuan semua!? Kurang seru ah!—obsesimu berlebihan, Lev, sumpah.
Labels: bar, friends, leaky cauldron, levina