Hari yang lain lagi di Diagon Alley. Hufft.. Coba saja kalau kemarin ia dan kakaknya tidak terlambat berbelanja—yah seperti yang kalian tahu saja sih sebetulnya, mereka bisa dibilang terlambat untuk berbelanja kemarin. Wakakakak—pasti hari ini mereka berdua langsung ongkang-ongkang kaki dikamar mereka di Kuali Bocor. Tapi ada senangnya juga sih. Hari ini juga mereka berdua bisa menjamah toko-toko lain yang belum sempat dikunjungi. Levina ini punya jiwa berpetualang loh. Ia sangat ingin mengunjungi tempat-tempat lain yang ada disini. Termasuk juga jalanan sepi yang ada didepan Bank Gringotts itu. Bagaimana tidak mencurigakan coba? Itu sudah ada jalanan lain untuk para penyihir kunjungi namun nyatanya tidak seramai Diagon Alley. Humm.. Mencurigakan. Sangat mencurigakan. Benar-benar sangaaaaaaat mencurigakan.
HOY, JANGAN DIULANG-ULANG TERUS DONG!Eh tapi yah sekarang Savana lagi baik loh sama Levina. Tahu kenapa? Setelah kemarin lengannya tidak ditarik-tarik lagi seperti anak anjing—sumpah tangannya jadi terasa pegal sekarang karena keterusan ditarik oleh Savana—hari ini alias hari keduanya berbelanja di Diagon Alley kakaknya tidak langsung mengajaknya berbelanja. Melainkan ke toko es krim! Itu loh, Florean Fortescue's Ice Cream Parlor yang letaknya didepan persis deh dengan toko jubah Madam Malkin. Kok Levina bisa tahu? Iya dong, soalnya kan ia sedang memegang
peta Diagon Alley jadi Levina tahu kalau toko es krimnya tepat didepan toko jubah dan juga toko buku yang belum sempat ia kunjungi. Hehehe.. Gini-gini, Levina punya ingatan yang sifatnya permanen loh. Tidak percaya?
Buktinya dia ingat kalau kemarin ia dilayani dengan goblin-apalah-itu-namanya di Bank Gringotts, kemudian diberi tongkat oleh si kakak ganteng, kemudian membeli jubah didepan toko es krim sana dengan dilayani oleh kakak Afrika, dan kemudian ketemu sama dua kakak ganteng yang sedang mengamen di jalanan Diagon Alley. HEIHOOO—siapa sini yang tidak percaya lagi, heh?
Oookay—sekarang Levina dengan kakaknya sudah berada di TKP alias tempat kejadian perkara—hei, memangnya sedang main detektif-detektifan bersama Dimdim?—alias lagi Florean Fortescue's Ice Cream Parlor! Levina juga sedang memegang lengan kanannya Savana—kan tangan kirinya sedang memegang tas Louis Vuitton kesayangannya itu, bleh—yaaa untuk jaga-jaga saja supaya kalau misalnya ada penyerangan entah-apa-itu-namanya bisa langsung kabur bersama Savana. Begitu deh Levina, kalau sudah dinasihati oleh kakaknya tadi malam sebelum tidur di Kuali Bocor. Katanya kalau sedang di luar tuh harus hati-hati, agar nanti tidak kena bahaya apapun. Keren ya kata-kata kakaknya? Pasti nyontek dari Dimdim lagi—eh tapi kan memang Savana kan kosakatanya sudah banyak, makanya artikel-artikelnya di majalah Playboy selalu eksis.
Eh eh, Levina kalau jalan matanya kedepan sebelum—
BUGH!
—menyenggol orang lain. Yah sudah keduluan.Tanpa sadar loh ya, tangan kirinya Levina menyenggol seorang laki-laki yang sedang berdiri tegap sementara didepannya ada seorang perempuan yang sedang tersungkur. HEI—jangan bilang kalau—ini pelecehan terhadap perempuan. Melanggar hak asasi perempuan tuh—perempuan memang harus tunduk kepada laki-laki, terlebih kalau sudah menikah—tapi apakah harus sampai perempuannya menunduk dibawah kaki laki-lakinya seolah mau menciumi kakinya? EH—tapi perempuannya sedang melepaskan sepatu rodanya, atau apa ya? Matanya kembali mengerjap-ngerjap melihat sang perempuan, kemudian mengalihkan pandangannya lagi kearah laki-laki—
lumayan ganteng, sumpah!—yang barusan disenggolnya tadi. AH—catat di otak kalian kalau ini adalah kesialan pertamanya hari ini. "Maaf ya, Kak! Sumpah tadi tidak sengaja kok!" ujarnya nyengir lebar plus inosen.
Savana? Sepertinya sudah pergi memesan tuh. Baaahhhhh.
OoC: Invited, btw xDDLabels: diagon alley, florean fortescue, friends, levina