OoC: Ceritanya si Levina abis dari tret Introduction, okeh?
Dapat teman baru! Dapat teman baru! Dapat teman—stop it, Levina! Namanya Jammie—mirip nama laki-laki ya? Ah tapi tidak apa-apa deh, setidaknya ia memiliki teman senasib sepenanggungan disini. Hohoho.. Dapat kata-kata yang tadi juga dari Dimitri kok. Serius deh, anak seperti Dimitri itu benar-benar pria idaman wanita—ceilah—bagaimana tidak coba ya? Orangnya baik, perhatian, easy going, lumayan tampan—satu-satunya alasan kenapa mata aquamarine-nya tidak pernah lari kemanapun kalau sedang bersama Dimdim—anaknya asik pula. Klop deh sama Levina yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung—PRET CUIH! Levina itu, yang harus kalian tahu setahu-tahunya adalah anak yang bandel. Memang sih, sejak orang tuanya resmi bercerai—ARGH, please deh ya. Buat apa sih mengungkit masa lalu? Tidak ada gunanya, tahu tidak? Itu hanya membuat perasaan kalian semakin sakit. Ayolah, coba kalian tersenyum dan membayangkan hari esok yang indah, itu sangat mudah dan membuat hati kalian senang.
Eh ngomong-ngomong kakaknya belum juga kembali dari telepon umum. Lah, memangnya seberapa jauhnya telepon umum dengan Kuali Bocor? Ampun deh, masa ia harus memanggil taksi hanya untuk mendatangi telepon umum terdekat? Capek deh. Tapi ada kemungkinan yang lainnya juga loh. Otaknya baru saja mencerna apa yang baru dipikirkannya. Maklum deh, otaknya masih konslet. Jadi begini, bagaimana kalau sebenarnya telepon umumnya dekat, tetapi Savana sedang menelpon dalam jangka waktu yang cukup lama? Eaaah—paling-paling juga menelpon teman sekantornya yang centil minta ampun yang membuatnya muntah seketika—ini serius, pernah kejadian seperti itu di rumahnya—dan meminta cuti sejenak demi menemani adiknya yang manis ini? (mengerjapkan matanya berulang-ulang) IDIH, LEVINA CENTIL DEH. HUEEEKKK!!
Atau ada yang lain. Bagaimana kalau Savana kabur ke kantornya demi menghadiri rapat tidak penting mengenai mode fashion terbaru era ini? Males deh.
Langkah kakinya mulai menapak entah kemana. Sesuai kata hatinya saja deh. Menunggu itu adalah hal yang membosankan—bagi sebagian orang—dan begitu juga bagi Levina. Tapi kalau disuruh menunggu kakaknya yang fashionista wannabe itu—lebih baik ia disuruh menjaga pintu neraka deh—hush, Levina jangan ngawur deh.
BRAKK!! Tiba-tiba ada suara seperti itu tuh. Telinganya yang mulai sensitif mendengar bunyi itu secara jelas. Sangaaat jelas. Serasa ada didekat dirinya—eh benar didekatnya ternyata, ehehehe.. Anak laki-laki itu—ampun dijeehh—terbentur sesuatu sepertinya sampai mukanya dengan suksesnya menghantam pancake yang ada dihadapan laki-laki itu. Teruuusss—ada laki-laki lainnya yang sedang mencatat sesuatu. JANGAN BILANG—jangan bilang dia adalah suruhan kakaknya yang sama-sama bekerja di majalah Playboy. Tapi kalau dilihat dari tampangnya sih ya bukan. Ia kenal betul dengan teman-teman sekantor kakaknya. Iya dong, mereka kan pernah mengadakan pesta semalam suntuk dirumahnya sampai-sampai ia harus menginap di rumahnya Dimdim—walaupun ia terpaksa tidur di ruang tamu sekalipun yang penting bisa tidur.
"OY! Kau kenapa? Kejatuhan
duren ya!?" serunya kepada anak lelaki yang mukanya barusan terbentur sesuatu—entahlah itu apa deh ya. Dan ngomong-ngomong—
—kejatuhan duren itu apa, Lev?Labels: friends, leaky cauldron, levina