[Simona Peacocks ROCKS!]YEAHH! Dapat tongkat juga pada akhirnya. Besok-besok kalau tongkatnya itu berhasil dipakai olehnya dan sangaat berfungsi dengan baik, Levina doakan deh si kakak ganteng yang tadi melayaninya itu semoga cepat punya jodoh—ataupun sih ya kalau dia sudah punya pacar atau tunangan mungkin—habisnya banyak katanya anak seusianya sudah tunangan, dan itu kedengaran sangaaaaaaat aneh—agar nanti beberapa tahun kemudian akan menikah dan kemudian memiliki seorang anak yang lucu seperti Levina. HEAAHH—kebanyakan cingcong kau Lev. Baru dapat tongkat saja rasanya sudah bagaimanaaa gitu. Tapi iya sih, siapa juga yang tidak senang melihat, memegang, dan terlebih memiliki tongkat sihir—yang ternyata tidak hanya ada di dunia dongeng itu? Err—misalnya kalau dunia sihir ini adalah dunia dongeng, berarti ada penyihir jahat—seperti nenek sihir dong? Ah entahlah.
Tapi kan kemarin kakaknya membaca koran apaaaa gitu yang gambarnya bergerak-gerak sendiri, katanya terror sudah menyebar dimana-mana—ini sih mirip virus SARS—SARS itu apapula yah?—kemudian kata-kata seperti Kau-Tahu-Siapa kembali berjaya, Pelahap Maut menguasai tempat ini dan ini, ya ampuun. Ternyata ada juga tindak kejahatan seperti itu ya? Aquamarine-nya bergulir pelan sembari berjalan menuju tempat perbelanjaan selanjutnya. Kata kakaknya sih—yang lagi-lagiii menarik lengannya dengan tangan kanannya, yang kiri memegang peta Diagon Alley soalnya—sekarang kita mau pergi ke Toko Jubah Madam
Malakin. Eaaaaaaah—jangan bilang kalau pegawainya suka malak seperti preman pasar. Levina berani sih, cuma malas saja menghadapinya.
sok berani lu yeeeNyah, sekarang kita sudah sampai di—ehehehe, Levina tadi salah dengar—Toko Jubah Madam Malkin. Habisnya kan namanya mirip begitu. Malkin sama malakin, bedanya cuma huruf A yang ada diantara huruf L sama K saja kok. Dan ternyataaaaa—suasanya tetap saja sama seperti di toko tongkat tadi. Ampun dijeh, sepertinya Diagon Alley memang selalu banyak pengunjung atau calon murid Hogwarts-nya yang kebanyakan yah? Eh sumpah dia sendiri juga tidak mengerti. Kalaupun ada Dimdim disini, pasti ia sudah mengerti sejak tadi. Oh ya, sekarang beruntung loh kakaknya juga ikut masuk kedalam toko. Yaaa katanya nostalgia begitu deh.
"Nah, sekarang siapa yang mau pesan?"
"Kau sajalah. Kan kau yang mau bersekolah disana, Illeane.""Eh tapi gantian dong. Tadi kan di toko tongkat sudah aku tuh yang pesan sendiri. Nah sekarang bagaimana kalau kau yang memesan untukku?" (tersenyum inosen)
"Baiklah—dasar anak kecil banyak maunya..""Eh tunggu sebentar.."
Tangan mungilnya merogoh saku celananya dan mendapatkan secarik kertas dengan pensil biasa ia simpan—buat jaga-jaga saja sih, soalnya biasanya kebiasaan dia kalau tidak ada Savana di rumah adalah MENCORET-CORETI DINDING KAMARNYA! Kreatif dong, masa di pinggir jalan? Itu kan melanggar aturan. Kalau di kamarnya sih tidak apa-apa, toh yang punya kamar ini Levina kan?
| Levina Illeane Vanessa Escàrcega |
"Nah, ini kasih ke pegawainya. Biar namaku tidak salah ditulis. Hehe.."
"Ha! Pintar juga kau, Illeane.Nah mereka berdua segera menuju meja si pegawai. Eh sumpah ya, banyak
banget antriannya. Eh, tak lama berselang kemudian sudah gilirannya lagi. NAH, SAVANA, GANTIAN SEKARANG!
"Permisi, aku memesan jubah untuk adikku ini. Namanya," —menyerahkan kertas yang baru saja ditulisi oleh Levina barusan, Levina anak cerdas juga kan ternyata?—
"yeah, seperti yang tertulis disitu." ujar si kakaknya sambil kembali merogoh tas Louis Vuitton kesayangannya. Ternyata kakaknya mungkin lebih sayang sama tasnya daripada Levina sendiri kali ya? EH—bohong kok. Hahaha..
OoC: Yang percakapannya warna putih itu berarti kakaknya. Terus yang tulisan namanya itu pake font Sue Ellen Francisco. Sori ngerepotin.. *kabuuuuuurr*Labels: diagon alley, levina, savana, toko jubah madam malkin