[Harusharusharus! Reno P. Bloomberg si kakak ganteng xDD]NAH! Savana sudah menukarkan uangnya sebesar entah itu berapa menjadi kepingan
gallon—serius itu nama uangnya
gallon?—bohong kok, sebetulnya yang benar itu galleon. Tinggal sisipkan huruf E diantara L kedua dengan O saja susah-susah amat sih. Nyehehe.. Langkah kakinya bersama Savana terlihat meninggalkan gedung putih yang paling mewah di jalanan Diagon Alley itu. Eh, itu didepannya ada jalan apa yah? Penasaran sih, soalnya banyak orang yang melintas begini tidak ada satupun yang masuk ke jalan yang ada tepat didepan gedung putih itu. Jalan kematian mungkin—HUSH, Levina jangan
ngaco ah! Mau tidak kau pergi duluan ke neraka sana yang panasnya ampun dijeh mantap banget itu? OH, siapa yang mau? Apalagi Levina, jangan dulu sebelum ia bersekolah di Hogwarts dulu, oke? Hmm.. Jadi setelah bersekolah, ia akan langsung meninggalkan dunia dan masuk kedalam neraka panas itu—yang ditemani sama Jin Ifrit itu?
Yee.. Bukan begitu juga maksudnya kalii..
EH—NEMU SEBUAH KERTAS—
—jangan-jangan kertas santet—hati-hati loh, Lev.HUSH, BUKAN KOK!
Oke, terpujilah wahai engkau ibu bapak guru—nyanyi apa menghitung bulir beras?—kita ralat deh. Terpujilah wahai siapapun yang membuang kertas itu secara sembarangan—
iniiiiii—peta
Dragonballey—bohong lagi kok, maksudnya Diagon Alley. HAHAHAHA.. Asik! Eh tapi, kakaknya yang rese itu langsung merebut peta tersebut. Buh, padahal ia sendiri belum melihat semuanya. Baru kotak-kotakan yang Levina curigai ini malah bukan peta Diagon Alley malahan teka-teki silang yang kalau sudah diisi semua dan dikirim lewat pos—bukan dengan meteor jatuh, eh maksudnya burung hantu seperti beberapa hari yang lalu itu loh—akan mendapat hadiah berupa uang sebesar berapaa gitu. Maklum deh, dia kan jarang mengisi teka-teki yang pertanyaannya sulit itu. Kenapa tidak langsung sekalian jawabannya dicantumkan dengan pertanyaannya gitu yah? Ah ngaco kau lama-lama, Levina.
"Oke, pertama-tama kita ke toko tongkat. Ingat kan kalau tadi kau berceloteh tentang tongkat sihirku tadi waktu kita di gerbang masuk menuju jalanan ini kan? Jangan bilang kau—"“IYA, SAVANA EMILIA ESCÀRCEGA KAKAKKU TERSAYANG PALING MODIS SEJAGAT RAYAAA." teriak Levina tanpa memperdulikan seberapa banyak orang yang mendengar teriakannya barusan. Toh sebetulnya juga sih ya tidak akan ada yang mendengar. Mereka terlalu sibuk dengan destinasi mereka masing-masing—lagi-lagi dapat kata-kata dari Dimdim. "Aku ingat kok, aku ingat bahkan hampir semuuuuuuuuuua yang kau katakan. Nah sekarang, toko tongkatnya dimanaaaa!?" ujarnya dengan nada tinggi dan memamerkan wajah kalemnya. Biar deh disebut aneh. Lagi-lagi lengannya ditarik oleh kakaknya. Puh, memangnya Levina ini anak anjing yang kalau kemana-mana harus ditarik-tarik?
Setelah melewati kerumunan orang dengan kata-kata seperti: aduh, permisi, maaf, minggir dong, tomingse—tolong minggir sedikit, dan lain-lain mereka berdua akhirnya sampai di toko tongkat Ollivander. Sejak tahun blablabla—Levina tidak terlalu memiliki daya ingat yang panjang mengenai tahun, kau tahu? Belum deh pasti. Yasudah, kali ini sudah dikasih tahu kan? Oke deh. Dan astaganagabonarjadidua—HOY, OMONGAN MACAM APAAN TUH!?—banyak juga loh yang datang kesini. Eh sial, Savana dengan tas Louise Vuitton kesayangannya menunggu diluar saja sementara dirinya sudah masuk duluan ke toko tongkat tersebut. Oke deh, waktunya berbelanja sendiri tanpa kakaknya! Orang biasanya juga kakaknya berbelanja sendiri—kalaupun ada yang menemani, palingan juga teman sekantornya. Atau mungkin—si kakak ganteng itu ya?
"Beli tongkat dong," —aquamarine-nya memandang kearah daftar tongkat, ribet sumpah— "13 Mei, tongkat Hawthorn—kalau disininya tidak salah cetak. Hihihi.."
Labels: diagon alley, levina, savana, toko tongkat ollivander