"Maaf, di sebelah sini, bisa kulayani?"Makanya, Lev, jangan suka berteriak tidak jelas di sembarang tempat.
Aqua cerahnya mengalihkan pandangannya lagi menuju seorang perempuan yang barusan—iya kan? Baru beberapa detik yang lalu perempuan itu bersuara padanya, masa mau dibilang kemarin sih?—dan ya, pegawai disini sepertinya hampir semuanya perempuan. Atau bahkan semuanya perempuan, tidak ada laki-lakinya sama sekali? Kurang seru. Coba deh ya kalau misalnya ada pegawai laki-laki yang juga bekerja disini—eh tapi kan kata kakaknya pemilik bar setengah hancur ini adalah laki-laki? Nah, terus kemana orang itu? Sudah meninggal. OH, turut berduka cita deh kalau sampai iya—kalau belum bagaimana Lev? Eaaaah—turut bersenang cita saja (?)—kalian bayangkan saja Levina yang tersenyum inosen layaknya anak bayi dengan kedipan yang belum begitu refleks dilakukan oleh bocah mungil itu.
mirip iklan, sumpah"Ini dua gelas butterbeer lezatmu, 4 sickles, dan dua kunci kamar tidur. Lantai dua, 204 dan 205." Yesh, pesanannya sudah datang—butterbeer dengan dua kunci kamar. Dan ngomong-ngomong, ini matanya Levina yang rabun atau apa yah? Kenapa butterbeer kelihatan seperti teh melati yang biasa jadi santapan sehari-hari kakaknya yah? Aquamarine-nya mulai belagak sok meneliti kandungan apa yang ada didalam minuman bertajuk butterbeer tersebut. Gah—mulai seperti profesor dia.
"Kau bersama keluargamu, kan, nona manis?" si pegawai perempuan berambut pirang mendekati coklat itu—seperti coklat dibalur lelehan keju dan atau kebalikannya, YUMMY!—mulai bersuara lagi. Eaah—dia belum sempat mengeluarkan sepatah kata apapun, sudah mulai ngomong lagi.
Telunjuk tangan kanannya kini mengarah kearah kakaknya yang sedang duduk tenang seperti orang yang sedang bersemedi di puncak gunung—di film-film banyak loh adegan seperti ini, entahlah apa spesialnya—sambil membaca majalah atau koran yah? AH, palingan kalau majalah pasti majalah Playboy deh. "Itu tuh, yang sedang duduk itu. Dia kakakku. Memangnya kalau bukan sama keluarga kenapa gitu?" tanyanya sambil menopang dagunya pada telapak tangan kirinya yang mendarat di meja bar. HEIHOI, kau kesini bukan untuk mengobrol dengan pegawai bar bobrok ini, tahu! Sesegera mungkin ia langsung mengambil dua kunci kamar sewaannya dan membawa butterbeer di kedua tangannya. "Ah ya, terima kasih ya—err—aku harus memanggilmu apa yah? Tapi tapi tapi, uangnya aku minta dulu ke kakakku itu. Tidak apa-apa kan?" ujarnya polos dengan cengiran lebar terpatri dibibirnya. Meninggalkan meja bar untuk menaruh butterbeer dihadapan kakaknya dan langsung memalak seperti: "MANA UANGNYA!?"
iya iya, mirip preman pasar.Labels: leaky cauldron, levina, savana