[Akasha Lazuardi]"Oy."
"...""Ngomong dong, biasanya kau membahas tentang artikelmu itu.."
"Memangnya penting?""Tumben sinis. Sariawan?"
(mengangguk samar)capedehGyaaaaaah—ternyata kakaknya bisa juga terkena sama penyakit yang namanya sariawan. Seumur hidupnya yah dia tidak pernah melihat kakaknya sependiam ini. Biasanya kan cerewet, ada hal yang tidak penting sekalipun masiiiiihhh saja dibahas. Sepanjang perjalanannya menuju Kuali Bocor—okelah, terserah dengan namanya kalaupun salah diucapkan, SALAHIN DONG SIAPA YANG MEMBUAT NAMA SEBEGITU ANEHNYA—kakaknya yang satu hampir tidak pernah menyerocos tentang apapun yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasa—bah, mirip nama satu album, tapi apa yah? Ngomong-ngomong soal sariawan ini yah, memangnya bisa sampai si penderitanya membisu? Berarti ini termasuk penyakit yang parah—harus hubungi dokter atau siapapun, pokoknya pakar kesehatan yang ahli—sayang, di zaman seperti ini sepertinya belum pernah bertemu dengan teknologi yang bisa memudahkan para manusia di dunia ini—eaaaaaaaah, bahasa darimana itu Lev?
Dimitri dong ah."Turun. Kita sudah sampai."Kaki mungilnya menapaki tanah jalan Charing Cross Road dengan santainya—gayanya Levina gituloh. Pakaiannya pun sangaaatt casual—baju lengan pendek dengan hot pants pemberian kakaknya yang fashionista plus shoppaholic itu—matanya mengerjap pelan barang sejenak sambil melihat keadaan luar si Kuali Bocor. Eh sumpah, banyak yang datang ke tempat itu. Memangnya apa yang istimewa dengan tempat itu sih? Tempat yang katanya banyak dikunjungi para penyihir—oh oke, biar kujelaskan bagaimana ia bisa berada disini setelah sebelumnya ia mengira burung hantu yang membawanya surat dari Hogwarts sampai dikira meteor jatuh. Gah, kalau itu benar meteor jatuh, pasti banyak deh yang merindukan kehadiran seorang Levina Illeane Vanessa Escàrcega yang baik, manis, berbudi luhur—BEDA SERATUS DELAPAN PULUH DERAJAT, sebetulanya. Muahahaha.. Jadi gini, waktu kakaknya datang—
"Eh, aku dapat surat ini."
"Dari siapa? Tidak akan mungkin kau akan mendapatkan surat dari majalahku—rite?"
"Iyaaaa—ini, lihat saja sendiri,"
(membaca suratnya) "Kau juga masuk Hogwarts, Illeane. Sumpah ya, aku juga dulu masuk kesana, kastilnya kuno—tidak seperti kantorku yang sekarang. Penuh dengan warna-warni, gaya, hal-hal yang menarik dan—"
"OY! Serius aku juga akan sekolah disana?"
"Iya, Illeane. Kalau tidak kau tidak akan mendapat surat seperti ini. Bagaimana burung hantu tadi? Tidak menyerangmu dengan tiba-tiba kan? Aku jadi ingat waktu dulu aku juga sepertimu waktu berumur sebelas tahun. Tiba-tiba saja ada burung hantu yang mendat—"
CUKUP, seperti itu ceritanya. Kakaknya langsung kena karma deh.
Levina memasuki si toko itu dan sumpah deh, ini tempat mirip sama tempat tinggalnya Penny. Meskipun lumayan kotor sih, rumahnya Penny jauuuuhh lebih bersahabat daripada tempat yang kumuh. Kata kakaknya sih, dia bisa memesan minuman gitulah disini sekalian cari tempat penginapan. EWOH—penginapan? Lantai dasarnya saja sudah seperti ini, apalagi penginapannya. OH-KEH, waktunya memesan deh. Daripada meracau terus-terusan—bakat dari kakakmu ya, Lev?
"Pesan butterbeer dua sama kamar tidur dua juga dong.." serunya sambil mengerjap jahil. Eaaaaaah—kau benar-benar mirip dengan kakakmu sekarang, Levina.
Labels: leaky cauldron, levina, savana