Percayakah kalian kalau hari ini adalah hari pertamanya belajar di Hogwarts? AHA—kalian yang belum percaya seharusnya cepat-cepat percaya saat kau mengetahui jadwal pelajaran selama setahun ini. But, seriously, Levina sendiri juga tidak percaya kalau hari ini adalah hari pertamanya mempelajarai ilmu sihir di sekolah ini. Soalnya yah, Levina pikir, sekolah ini penuh dengan kesenangan yang dihasilkan oleh sihir—tapi ya namanya sekolah kan tempatnya untuk belajar, bukan untuk bersenang-senang kan? Palingan juga kalau bersenang-senang, bisa dinikmati pada akhir pekan dan libur musim panas juga dingin, iya kan? Levina mengangguk sama mendengar suara-suara imajiner yang datang dari otaknya sendiri. Aquamarinenya masih menatap lekat pada sarapan paginya kali ini. Kalau pagi-pagi biasanya kakaknya sudah menyiapkan roti sandwich untuknya dan salad segar untuk kakaknya sendiri. Yah, kata kakaknya sih, Savana sedang dalam masa diet. HAH, YANG BENAR SAJA? Padahal ya kalau menurut Levina sendiri, kakaknya sudah cantik, memiliki tubuh yang ideal untuk gadis berusia 24 tahun. Kalau Levina kan masih kecil, masih dalam masa pertumbuhan. Jadi wajar kalau makan banyak juga sih. Hihihi..
Oke, sehabisnya dari Aula Besar, dirinya langsung beranjak pergi menuju kelas Mantra yang berada dilantai—urm—satu, dua, TIGA! Ya, kelas Mantra itu letaknya ada di lantai tiga, ruang rekreasi siswa sama ruang piala juga di lantai tiga. Ah iya, mungkin nanti habis pelajaran Mantra ini ia akan langsung istirahat sebentar di ruang rekreasi siswa. Katanya sih tempatnya lumayan asik untuk beristirahat setelah mengikuti kelas. Jadi ya Levina ingin memastikan sendiri apakah itu betul atau cuma kabar angin saja—itu pakai kata-katanya Dimitri loh. Kan kalau Levina menyebutnya gosip, kalau dia kabar burung. Tapi memang apa bedanya gosip sama kabar burung? Perasaan sama saja—ah sudahlah, Levina sudah berada didepan pintu kelas Mantra tuh.
Pertama kali masuk kesini ia langsung terkejut karena gurunya.. PENDEK! Eh salah, CEBOL! Kata Anno, namanya Profesor Filius
Pelit-Wig (?), kepala asrama Ravenclaw juga ternyata. Oh iya yah? Kalau Profesor McGonagall itu Trans—
portasi? Apapun itu, kemudian kalau yang Hufflepuff itu mengajar herbologi. Terus yang satu lagi siapa ya? Katanya Anno Profesor Slughorn, tapi kalau Levina tanya kepada orang lain katanya sudah tidak ada lagi orangnya. Ah sudahlah, tak perlu dipikirkan. Oke, profesor itu cebol, catat di otakmu—sebagai salah satu keajaiban Hogwarts—mungkin ya? Haha.. Bercanda, keajaiban di Hogwarts itu banyaaaaak sekali, kata kakaknya. Pacarnya juga bilang begitu, soalnya mereka berdua juga alumni dari Hogwarts sih. Jadi mungkin tahun depan ia harus banyak tanya-tanya tentang Hogwarts kali ya? Hitung-hitung menambah pengetahuan juga ya, hihihi.. Lah, sejak kapan Levina mendadak seperti anak Ravenclaw seperti ini? Pasti aura kelasnya kali ya? Soalnya kan Profesor
Pelit-Wig juga kepala asrama Ravenclaw kan? Baiklah, lanjut saja lanjuuutt.
Ngomong-ngomong, seperti biasanya ia duduk sebelah Jammie. Hihihi..
"Sebuah mantra dasar untuk melayangkan benda—bisa kalian baca di halaman yang sudah kusebutkan," —berdehem sebentar— "Wingardium Leviosa!"WOW—itulah kenapa Levina bersemangat ingin bersekolah di Hogwarts setelah mendapat beberapa informasi dari kakaknya dan pacarnya yang sama-sama orang Spanyol itu. Ternyata mantranya tidak sama seperti pertunjukkan sulap yang biasa ditayangkan di British TV. Bukan 'simsalabim abrakadabra' lagi, tapi kalau disini sudah sedikit—arr.. Bagaimana ya bilangnya?—mungkin sedikit sulit untuk diucapkan kali ya?
"Silahkan mempraktekkan mantra tersebut, gunakan bulu yang ada di atas meja kalian. Hanya bulu, aku tidak mau ada benda lain yang melayang. Kalau sampai terjadi, poin asrama kalian juga akanmelayang! Dan tolong diingat bahwa aku tidak mau ada keributan di dalam kelasku!" ujarnya mendadak serius. Iya iya, Profesor
Pelit-Wig, Levina janji tidak akan membuat keributan didalam—selalu. Meskipun kadang-kadang Levina memang anaknya tukang cari ribut, tapi kalau didalam kelas Levina selalu kalem kok. Oke ya, sebut saja kalau mimik muka Levina kadang-kadang seperti minta dihajar atau ditabok atau digilas atau diapakan terserah, tapi—seriously—Levina adalah anak yang kalem didalam kelas. Ah ya, sekarang waktunya—urm—PRAKTEKKAN MANTRA TADI! Ia kembali melirik bukunya yang sebetulnya pemberian dari pacar kakaknya tersebut—Anno Montez ternyata baik juga ya pada Levina. Masih awet ya ternyata?
"Wi
ngardium Levio
sah!" rapal dari bibir tipis semi pucatnya. EHH?—tidak ada efek rupanya. Ia kembali melihat kearah bukunya yang sudah dibuka tadi. Halaman lima kan? Bukan lima puluh? Bukan lima ratus? Bukan—SUDAHLAH, perbaiki pengucapannya dahulu, Levina. Oh iya, ternyata perapalannya bukan seperti tadi. Nah, coba lagi! "Wingardium Leviosa!" untuk kedua kalinya ia mengucapkan mantranya itu. Dan kalian tahu apa, saudara-saudara seHogwarts raya? Levina berhasil menerbangkan bulu tersebut. Tongkatnya ternyata keren, saudara-saudara. Iyalah, siapa dulu yang melayaninya di toko tongkat? Masa kalian mendadak lupa sama kakak
ganteng yan melayaninya sewaktu di toko tongkat tersebut? Sudah ramah,
ganteng pula. Hihi.. Senang deh Levina. "Jammie, ayo praktekkan! Jammie pasti bisa!" ujarnya menyemangati teman seasramanya yang kini duduk disebelahnya itu. Kalau Levina saja bisa, kenapa yang lainnya tidak?
Labels: friends, hogwarts, kastil, kelas, levina, mantra