Kata pertama: GAH!
Tanya kenapa Levina harus mengatakan GAH! pada pagi yang cerah seperti ini. Pertama: Dia ditinggal sendirian hari ini. Kakaknya? Lagi pergi tuh. Kencan sepertinya. Dia kan baru kenalan sama seorang laki-laki yang ternyata temannya dulu tuh. Siapa sih namanya? Ah lupa, pokoknya si laki-laki itu mukanya ganteng! Sumpah ya, dia dulu juga pernah kesini sih, tapi hanya barang sejenak untuk mengantar kakaknya pulang saja. BUH! Serius, kalau dilihat dari jauh, tampangnya mirip John Legend—eh salah—aktor Hollywood. Ah lupa juga siapa namanya. Levina sedang jarang nonton televisi sih ya, maklum saja, selalu dibajak sama kakaknya yang gila gosip itu—mungkin karena itu yah mengapa ia bisa sampai diterima bekerja di majalah Playboy. Ahahaha..
Majalah Playboy, masa kalian tidak tahu sih ah?Oke deh ya, intinya tuh Levina ditinggal sendirian di rumah. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menonton televisi yang sering dibajak oleh kakaknya yang satu itu sembari mengacak rambut panjangnya. Jengah dengan rambut panjang. Susah diaturnya, gampang kusut, gampang bercabang, ah segalanya deh. Pernah sih dipotong pendek, tapi ya dia dikira anak laki-laki. Menyebalkan tahu! Levina tidak suka ya dikira laki-laki, meskipun kelakuannya ada-ada saja. Yee.. Namanya juga anak sebelas tahun, masih bisa bebas melakukan apa saja yang mereka suka, iya kan? Levina janji, kalau dia sudah mengalami kedewasaan yang biasa dinamakan menstruasi itu—eh benar kan?—dia akan merubah dirinya menjadi WANITA SEJATI seperti yang pernah dibilang oleh kakaknya.
Begitulah efeknya kalau kau memiliki kakak—perempuan pula, tsk—yang peduli mode. Sering menonton televisi demi mendapat inspirasi untuk artikel terbarunya—yang kebanyakan tak penting menurut Levina, toh dia tidak terlalu peduli dunia fashion ini kok—kemudian belanja sana-sini demi mempercantik dirinya saat bekerja—tambah tidak penting, Levina orangnya cuek apa adanya sih ya—dan menggaet laki-laki tampan. AH, ia jadi teringat lagi sama laki-laki yang mengajaknya kencan itu. Bolehkah ia sebut kakak tampan?—silahkan dibacok.
Kata kedua: YAHOOY! Dimitri mengajaknya keliling bersepeda. Tetangga sebelahnya itu memang baik, sangat klop dengan Levina. "Eh, Dimdim, coba kau pakai sepedaku—dan aku memakai sepedamu. Mau?" itulah kata-kata yang sering dilontarkan dari bibir mungilnya itu; dan langsung cengiran lebar mirip seperti kuda yang mengikik—dan ngomong-ngomong, bukan berarti wajahnya mirip kuda loh!—terukir di wajahnya. HUWOH, kata-kata macam orang melankolis seperti Shakespeare saja—kalo penulisan salah, tidak ditanggung, ok? Levina jarang membaca buku tebal yang isinya kata-kata yang kurang dimengerti—stop, kau memang banyak bacot, Lev.
Nah benar kan Dimdim datang? Huahahahahaha.. Mengajaknya bermain sepeda pula—
"Awas, Dim!"
—woh, itu apa yang dibelakangnya Dimitri sedang melesat kesini?Jadi kata ketiganya: EH!?
Itu bukan meteor yang akan jatuh lagi kedasar bumi, apalagi sampai ke rumahnya Levina. Itu—gyaaaaaahh—BURUNG! Jangan bilang kalau burung tersebut keluar dari kebun binatang atau penangkaran burung. Kalau sampai iya, ia bakal langsung menyambar telepon hijau lumutnya dan menelpon ke pihak kebun binatang—gini-gini Levina peduli loh! Oh iya, yang bikin kalian harus bergidik—harus, kalau kata Levina harus ya HARUS!—adalah itu burung hantu yang biasanya berkeliaran malam-malam begitulah. Buat apa berkeliaran pagi hari dengan sinar matahari yang membuatnya tersenyum dan membayangkan hari esok yang indah itu yah? Nyahh—sambil membungkuk bersama Dimitri—dia memikirkan lagi hal itu. Udah ah, kurang penting. Buat apa dipikirkan sih?
Ajaibnya, dia membawa sepucuk surat untuk—siapa?
Tepat ada didepannya pula. Buat Levina? Masa sih? Perasaan sejauh ini dia tidak punya sahabat pena dari manapun, kenapa langsung tiba-tiba ada surat sih?
"Surat dari siapa ini?" dua-duanya bersuara dengan intonasi berbeda. WEW, kontak batin itu memang benar adanya. Memang ada, saudara-saudara! Kenapa bisa berbarengan begitu ya? Kurang jelas. Hmm.. Ia membalikkan surat tersebut dan terdapat.. INI YAH, pasti bukan untuk Levina! Ini untuk kakaknya itu! Ketahuan
banget dari stempel belakangnya. Hogwarts, ini pasti panggilan dari sekolah sihir apalah itu untuk kakaknya. Butuh bantuan mungkin? OH, ternyata ada yang sudi juga ya meminta bantuan kepada kakaknya itu. Dia kan sedang sibuk dengan banyak artikel tidak pentingnya itu. Kakaknya tidak akan mau, ia jamin deh. Nah sekarang, pertanyaannya..
"Menurutmu ini dibaca dulu atau jangan?"
"Terserah sih, tapi menurutku sebaiknya jangan."
(mengerenyitkan dahi)
(ikut-ikutan mengerenyitkan dahi, tatapan mata kepada Levina)
"Tapi ini surat untukku kan?"
"Oke deh, coba buka!"
"Siapa yang mau buka?"
(menunjuk kearah Levina) "Kan tujuan surat ini untukmu, Illeane."
"HEY!"Levina tidak suka ya kalau dipanggil Illeane oleh orang lain. Cukup kakaknya saja yang memanggilnya dengan panggilan nista seperti itu. Sementara jarinya membuka surat tersebut, pandangannya masih kearah Dimitri. Semacam pandangan meyakinkan lah. Oke, suratnya ada didalam. Mari kita baca. 'Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts.' Nah masalahnya disini adalah, kakaknya sudah pernah bersekolah di Hogwarts. Jadi surat ini benar-benar untuknya? AH, penipuan pasti. Ini harus ditanyakan dulu kepada kakaknya—entah harus bagaimana caranya pokoknya ia harus menanyakan hal ini pada kakaknya, meskipun pada akhirnya ia ditendang menuju kamar atau diapa-apain—asal jangan melakukan yang macam-macam
banget sih—pokoknya harus ditanyakan. Sekali lagi ya, kalau Levina bilang harus ya HARUS! Turuti atau kau mati!
"Jadi, mau main tidak?"
Labels: from hogwarts, house, letter, levina, levina's life